Tunggu, sedang memuat. . .

Sinopsis The Girl Who Sees Smells Episode 15 Part 1

Sinopsis The Girl Who Sees Smells Episode 15 Part 1

Moo Gak sudah siap menarik pelatuknya dan Jae Hee juga seperti sudah pasrah, matanya melihat Yum Mi dibawa keluar oleh Detektif Yeh, akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan perpustakaan untuk pergi ke lantai satu. Moo Gak pun mencoba keluar ruangan untuk mengejarnya.
Jae Hee berlari ke ruangan pakaian dan langsung mengambil tas memasukan semua buku harian korban ke dalam tas dan ada juga setumpuk uang yang ia simpan didalam laci. Moo Gak bisa menemukan jalan tembus ke ruangan pakaian lalu melihat Jae Hee yang kabur dengan membawa tas lalu terdengar suara tembakan. Moo Gak sengaja membuang peluru ke atas.
“Jangan bergerak.” perintah Moo Gak yang sudah bisa mengejar Jae Hee sampai ke ruang tengah. Jae Hee pun terdiam lalu membalikan badannya.
“Detektif Choi… bagaimana kau bisa menemukannya?” ucap Jae Hee kaget karena Moo Gak bisa tahu jalan tembus ke ruangan pakaiannya.
“Diam!!!  Letakkan tas dan turunkan di lantai.!!!” perintah Moo Gak yang sudah siap dengan pistol ditangannya.
“Bisakah kau membiarkanku pergi saja?” kata Jae Hee seperti ingin mengejek Moo Gak
“Aku memperingatkanmu…jika kau mengoceh satu kata lagi, kau akan mati.”balas Moo Gak sedikit mengancam.
“Aku kira kau tidak akan membiarkanku pergi dan Aku membunuh adikmu.” ucap Jae Hee kembali mengejek Moo Gak
Moo Gak dengan cepat mengarahkan tembakannya ke arah perut Jae Hee dan terlihat darah yang mulai keluar. Jae Hee kaget, wajahnya langsung memerah dan jatuh begitu saja. Moo Gak berjalan mendekat tapi Jae Hee walaupun sudah dilumpuhkan berusaha untuk tetap kabur dari pintu depan. 
Suara sirene mobil polisi terdengar dari luar rumah, Di depan pintu sudah siap menunggu Deteketif Ki, Jan Hyuk dan beberapa polisi lainnya. Jae Hee bisa keluar melihat polisi yang sudah siap menangkapnya. Moo Gak menyuruh Jae Hee untuk meletakan tas dan turun ke tanah, Jae Hee masih tetep berusaha berdiri tapi Moo Gak hanya mendorong dengan satu tangan saja Jae Hee langsung terjatuh.
Detektif Ki langsung memborgol tangan Jae Hee yang sudah tengkurep dilantai. Moo Gak melaporkan Detektif Yeh sudah menyelamatkan Yum Mi, Kang Hyun juga memberitahu ambulance sedang dalam perjalanan menjemputnya.
Moo Gak memeriksa isi tas berisi buku diary korban mulai dari Chun Baek Gyung lalu Joo Ma Ri. Jae Hee histeris melihat buku diary korbannya dipegang dan berteriak menyuruh Moo Gak tak boleh menyentuhnya. Yum Mi akhirnya masuk ke dalam ambulance yang ditemani oleh Cho Rim. 
Jae Hee dibawa ke mobil ambulance dengan berteriak tak boleh ada orang yang menyentuh diary korbannya. Detektif Ki dengan sengaja ikut memborgol satu tangannya supaya Jae Hee tidak akan bisa kabur.
“Pistol merokok, sepertinya.” ucap Moo Gak memberikan tas yang berisi diary para korban
“Mereka tampak hanya seperti buku.” kata Kang Hyun kaget
“Ya, ada nama para korban dan barcode.” jelas Moo Gak lalu ia masuk ke dalam mobil ambulance, Detektif Ki menyuruh sopir untuk segera pergi. Sementara polisi lainnya segera memeriksa seluruh rumah Jae Hee. 
Detektif Yeh mondar-mandir di depan kamar rumah sakit dengan cemas karena Yum Mi belum sadar juga. Detektif Ki sudah tahu si brandal gila Jae Hee sengaja memasukan gas supaya Yum Mi mati lemas dan mengumpat akan mencari cara untuk membunuhnya.
“Dokter mengatakan jika penyelamatan lewat beberapa menit, dia akan meninggal.” komentar Kang Hyun
“Kita menangkap Kwon Jae Hee. Tapi kenapa saya tak merasa senang?” ungkap Moo Gak merasa masih ada kegelisahan
“Semua detektif selalu merasa sesuatu yang berat di hati mereka bahkan setelah menangkap penjahat. Tapi mereka harus mengesampingkannya dan lanjut dengan kasus berikutnya.” nasehat Kang Hyun
Cho Rim keluar ruangan memberitahu kalau Yum Mi sudah sadar dan mereka semua bisa melihatnya sekarang. 
Yum Mi masih terbaring lemah walaupun matanya sudah terbuka. Moo Gak menanyakan apakah Yum Mi bisa mengenal mereka semua, dengan suara lemah Yum Mi menjawab ia bisa mengenal mereka semuanya. Terlihat semua anggota bisa bernafas lega.
“Kwon Jae Hee…” kata Yum Mi perlahan
“Anda menangkapnya, Letnan Yum.” ucap Kang Hyun dengan wajah tersenyum
“Anda sangat berani, Letnan.” puji Detektif Ki
“Anda harus segera sembuh! Saya akan membelikanmu barbekyu!” harapan Detektif Yeh
Dokter meminta supaya semuanya meninggalkan ruangan sekarang, Cho Rim menyuruh semua keluar dan dia akan menunggu Yum Mi diruangan. Dokter melarangnya karena ia menyuruh semuanya pergi karena Yum Mi butuh istirahat penuh. Moo Gak menarik Cho Rim keluar ruangan, semuanya pun meninggalkan Yum Mi supaya bisa istirahat. 
Jajangmyeon, daging babi asam manis dan beberapa makanan lainnya sudah tersedia diatas meja. Moo Gak rasa kejadian tadi itu sangt melelahkan sampai Cho Rim belum makan. Cho Rim rasa Moo Gak itu yang lebih melelahkan darinya, jadi ia meminta supaya Moo Gak istirahat tanpa memikirkan apapun.
Moo Gak memegang tangan Cho Rim lalu menatapnya. Cho Rim menanyakan ada apa. Moo Gak hanya mengelengkan kepalanya. Cho Rim mengejek sikap Moo Gak yang aneh lalu menyuruh Moo Gak makan lagi
“Aku kira dosanya tidak berakhir ketika pelakunya ditangkap.” ucap Moo Gak seperti masih ada kegelisahan walaupun Moo Gak ditangkap.
“Serius…Aku bilang jangan berpikir apa pun, istirahat saja!” perintah Cho Rim
“Penderitaan korban berlanjut.” kata Moo Gak
Cho Rim menyuruh Moo Gak menghentikan ucapannya, Moo Gak akhirnya melanjutkan makannya dan menyuap dua suap nasi goreng ia terhenti. Cho Rim kesal karena Moo Gak masih saja memikirkan tentang kejadian itu. Moo Gak mengataan dirinya itu tiba-tiba kenyang.
“Kau Kenyang ?? Sepertinya kau hanya makan dua porsi. Aku kira di sana akan ada banyak sisa makanan.” ucap Cho Rim binggung tapi ia sadar Moo Gak bisa merasakan perutnya kenyang
“Wow! Indera tubuhmu pasti sudah kembali! Ini bagus! Apakah ini karena kau menangkap pembunuhnya? Mungkin karena kau telah mencapai tujuanmu! Kalau begitu sekarang giliranku untuk mendapatkan ingatanku kembali Aku berharap mereka akan kembali sebelumnya.” kata Cho Rim sangat berharap.
“Jangan terburu-buru.” pesan Moo Gak dengan tatapan sedihnya, seperti tak ingin memaksa. 
Cho Rim tertidur di lantai atas dan Moo Gak tidur dikursi. Cho Rim yang sudah terlelap memanggil ibunya. Di dalam mimpinya, ia baru pulang sekolah melihat ibu dan ayahnya tersenyum di meja makan.
“Aku bilang aku pulang, Ibu! Kenapa kau tidak bicara? Kau harus bertanya bagaimana hariku!” ucap Cho Rim yang melihat ayah dan ibunya hanya memberikan senyuman,
Setelah itu mereka menghilang dari meja makan, Cho Rim binggung mencari kemana ibu dan ayahnya pergi. Cho Rim memanggil ibunya sambil menangis, Moo Gak terbangun dari tidurnya karena mendengar Cho Rim yang memanggil ibunya, langsung berlari menaiki tangga.
Moo Gak memegang tangan Cho Rim dan memanggilnya, Cho Rim terbangun dari tidurnya lalu dibantu duduk oleh Moo Gak. Ia mengatakan sudah mengingat wajah ibu, ayah, rumah pada saat kejadian, Moo Gak memeluk Cho Rim supaya tenang.
“pembunuhnya, Kwon Jae Hee…Ibu dan ayah… Dan kecelakaanku… Aku ingat semuanya.” kata Cho Rim yang terus menangis dipelukan Moo Gak
“Semuanya baik-baik saja, jadi Menangis saja.” ucap Moo Gak terus memeluk erat Cho Rim dengan mengelus-ngelus punggungnya. 
Jae Hee terlihat seperti mayat hidup duduk diruang interogasi dengan tangan terborgol dimeja. Detektif Ki, Yeh dan Yum Mi sudah ada diruang kontrol. Detektif Ki memberitahu merek sudah menginterogasi Jae Hee saat Yum Mi ada dirumah sakit tapi Jae Hee tak menjawab apa-apa dan tak mengucapkan satu kata pun.
Moo Gak masuk ke dalam ruang interogasi dengan membawa sebuah kotak lalu membyas Jae Hee yang hanya diam tak mau menjawab pertanyaan.
“Detektif Choi, kenapa kau di sini telat sekali? Kenapa kau tak menembak kepalaku hari itu? Semuanya pasti sudah berakhir jika kau melakukan itu.” kata Jae Hee dengan nada mengejek
“Aku mendengar notebook ini yang dr. Chun tulis di depanmu.” ucap Moo Gak memperlihatkan buku yang biasa ditulis korban sebelum mati. Moo Gak menyiram spirtus dan sengaja membakar buku didepan Jae Hee.
“Kau bicara cukup banyak untuk orang yang ingin tetap diam.” sindir Moo Gak
“Apa yang kau lakukan?”kata Jae Hee mulai histeris karena buku harian korban dibakar. 
“Bagaimana dia bisa membakar sepotong bukti seperti itu?” umpat Detektif Ki yang ingin keluar ruangan untuk mencegahnya.
“Itu bukan sepotong bukti, tapi Itu notebook kosong yang kita temukan di rumah Kwon Jae Hee.” jelas Yum Mi dengan lirikannya, Detektif Ki akhirnya kembali tenang karena merasa bersalah.
“Apa yang kau lakukan sekarang? Hentikan! Kau tak bisa membakarnya! Tolong hentikan!Aku mohon padamu! Tolong hentikan!” teriak Jae Hee histeris melihat bukunya dibakar
“Sekali lagi, kau terlalu banyak berbicara sambil tetap diam.” ucap Moo Gak
“Aku akan menjawab. Aku akan menjawab apa pun. Jadi tolong hentikan!” kata Jae Hee akhirnya menyerah.
Moo Gak memasukan buku yang sudah terbakar ke dalam kotak, Yum Mi akan masuk ke dalam dan siap menginterogasinya. Jae Hee agak kaget melihat Yum Mi yang ternyata masih hidup.
“Ayo mulai dengan alibimu untuk kasus Joo Ma Ri. Bagaimana kau berada di Amerika?” ucap Yum Mi 
Moo Gak pulang kerumah mengajak Cho Rim untuk duduk sebentar sebelum pulang kerumah. Ia menceritakan baru saja bertemu ayahnya Jae Pyo, Cho Rim kaget karena ia sendiri tak bisa menghubungi ayahnya dan menanyakan keberadaannya. Moo Gak memberikan sebuah bingkai foto yang dititipkan oleh Jae Pyo.
“Seperti ini… Ibu, ayah, dan aku. Aku suka melihat kami bertiga bersama-sama.” kata Cho Rim melihat foto dirinya yang ada ditengah dengan ibu dan ayahnya. Moo Gak lalu menyerahkan sekotak cincin emas
“Ini tampaknya seperti…cincin ibuku.”ucap Cho Rim melihat cincin yang tersimpan rapih didalam kotak.
“Itu benar. Dulu cincin itu dipakai oleh ibumu.” kata Moo Gak
Cho Rim berkaca-kaca karena ayah angkatnya itu masih menjaga semua peninggalan orang tua kandungnya. Moo Gak lalu mengambil sebuah kotak besar dan memperlihatkan buku diary yang sudah ditulis ibunya sebelum meninggal. 
Cho Rim membaca salah satu lembar buku yang  tertulis rapih oleh ibunya. 
“Putriku, Eun Sul, adalah seorang gadis yang baik. Setiap kali aku bertanya apakah dia akan takutsaat dia sendirian di rumah. dia bilang dia tidak takut karena dia membayangkan kita dengan dia sepanjang waktu.”
Cho Rim kecil asik mengambar sambil menunggu orang tuanya yang pulang dari laut dan menyambut gembira saat ia pulang.
“Ketika aku pulang ke rumah setelah hari yang panjang di laut. dia memijat tangan dan kaki dengan tangan kecilnya.”
Cho Rim kecil duduk dipangkuan ibunya sambil memijat kaki dan tangan ibunya. Cho Rim sudah duduk ditaman dengan air mata mengalir mengingat semua tulisan ibunya.
“Ketika aku melihat Eun Sul dewasa… aku kadang-kadang berpikir tentang bagaimana aku pernah menjadi anak yang berharga pada orangtuaku. Aku lupa pada fakta bahwa aku dulunya seorang putri juga. Aku hanya akan tetap hidup sebagai seorang ibu.Eun Sul-ku akan menjadi seorang ibu juga. Dia akan menjadi ibu yang baik karena dia adalah anak yang baik. Aku menyayangimu, anakku Eun Sul.”
Ayah dan ibu Eun Sul sangat bahagia saat makan bersama, Sang ibu sering menyuapi Eun Sul dan ayahnya juga memberikan lauk untuk anaknya. Eun Sul senang bisa makan dengan ayah dan ibunya.
Cho Rim melamun mengingat kebahagian dengan ayah dan ibunya, tapi sekarang ia tak bisa karena keduany sudah meninggal. Moo Gak melihat dari kejauhan membiarkan Cho Rim duduk sendirian mengenang masa lalunya. 
Semua anggota tim investigasi khusus berkumpul diruang interogasi. Kang Hyun melihat kalau penyelidikan mereka sudah selesai jadi Jae Hee akan segera dikirim ke pengadilan. Jae Hee menatap Kang Hyun dengan mata mendelik seperti akan segera membalas dendam. Kang Hyun meminta Jae Hee untuk memberikan tanda tangan surat.
“Kami selesai denganmu, Kwon Jae Hee, Sekarang kau akan menunggu pengadilan hukum.” ucap Detektif Ki
“Aku ingin meminta satu bantuan terakhir, yaitu Aku ingin berbicara dengannya secara pribadi.” pinta Moo Gak
“Hentikan, Detektif Choi. Mari kita kirim dia ke Kantor Kejaksaan.” perintah Yum Mi menolak permohonan Moo Gak
Moo Gak memohon sebagai permintaan terakhirnya dan tak akan lama. Kang Hyun akhirnya memutuskan memberikan waktu untuk Moo Gak berbicara pada Jae Hee. Semuanya pun meninggalkan Moo Gak dan Jae Hee. 
Moo Gak membuka borgol ditangan Jae Hee, terlihat Jae Hee binggung menanyakn apa yang akan dilakukan Moo Gak sekarang. Moo Gak rasa ia tak akan melihatnya lagi jadi ia pikir ada sesuatu yang harus ia lakukan.
“Aku bertekad untuk melihatmu lagi.” ucap Jae Hee penuh keyakinan
“Kau…tidak akan mampu melangkah keluar dari penjara lagi.” tegas Moo Gak
“Tidak… Kita pasti akan bertemu lagi.” balas Jae Hee
“Itu tidak akan terjadi. Aku hanya akan mengatakan ini sekali. Minta maaflah ke orangtua Cho Rim dan adikku… Di sini, sekarang.”perintah Moo Gak
“Apa kau pikir permintaan maafku akan membuat keluarganya merasa lebih baik? Apa kau pikir kau akan dapat melarikan diri tanpa merasa bersalah terhadap korban? Tidak sama sekali.” kata Jae Hee tanpa ada rasa penyesalan.
Moo Gak pikir Jae Hee hanya mengatakan satu kalimat saja yaitu “aku minta maaf”. Dengan mata dinginnya, Jae Hee merasa itu tak ada gunanya, malah ia ingin menceritakan perasaannya saaat membunuh adiknya. Moo Gak memegang baju Jae Hee dan langsung memberikan pukulan pada perut Jae Hee yang masih terluka.
Jae Hee duduk dengan menahan rasa sakitnya, Moo Gak memberitahu kalau pukulan tadi untuk adiknya dan sekarang ia akan memukul sebagai pembalasan atas orang tu Cho Rim. Ia menonjok wajah Jae Hee sebanyak dua kali, detektif Ki dan Yeh datang kembali memborgol Jae Hee.
“Aku berutang padamu sekarang dan Aku akan pastikan untuk membayar kembali.”kata Jae Hee dengan nada mengancam.
Yum Mi yang melihat dari luar melirik sinis karena Moo Gak masih mengunakan perasannya walaupun Jae Hee sudah ditangkap. Moo Gak hanya bisa menangis, mencoba menahan air matanya tidak menetes tapi tetap saja mengalir dipipinya. 
Jae Hee dibawa keluar dari kantor polisi untuk dipindah menjalani tahanan sampai ke pengadilan, beberapa wartawan ingin tahu motivasinya membunuh dan komentarnya dengan keluarga korban. Jae Hee menaiki bus yang membawanya ke penjara.
Ketua polisi memuji kerja Kang Hyun yang bagus, Kang Hyun merendah karena bukan dia tapi Yum Mi dan seluruh timnya. Inspektur Sa mengakui Kang Hyun itu melakukan tugas dengan baik karena tidak semua orang bisa menangakp pembunuh berantai. Kang Hyun tersenyum mengucapkan terimakasih.
“Jadi hari ini adalah akhir dari Tim Investigasi Khusus?”tanya Ketua Polisi
“Ya, Pak.” jawab Kang Hyun, lalu bis dan mobil polisi mengiringi kepergiaan Jae Hee dari kantor polisi. 
Semua tim berkumpul makan daging bakar dan memberikan tepuk tangannya, Yum Mi berdiri di depan semua anggota timnya.
“Tim Investigasi Khusus telah selesai tugasnya. Aku akan kembali ke pos asliku di Satuan Investigasi Metropolitan. Aku tak tahu apakah aku bisa mengatakan ini tapi aku benar-benar tak ingin kembali.” ucap Yum Mi
Semua memberikan semangat supaya Yum Mi kembali pada kesatuannya, lalu Yum Mi meminta maaf pada Kang Hyun karena semua  sikap kurang ajaranya sejauh ini. Kang Hyun merendah diri kalau Yum Mi tak perlu meminta maaf.
“Dan Detektif Choi… Kau telah melalui begitu banyak hal karena aku menyeretmu ke dalam tim ini. Terima kasih atas kerja kerasmu.” ucap Yum Mi,
“Tidak sama sekali. Aku harus berterima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menyelidiki. Terima kasih semuanya.”kata Moo Gak
“Dan Cho Rim… senang bisa mengenalmu.” ucap Yum Mi, Cho Rim juga senang bisa mengenal Yum Mi
Tiba-tiba Yum Mi meneteskan air mata karena terharu, Kang Hyun mengodanya kalau iu bukan seperti Yum Mi  si “Ice Princess” yang mereka kenal lalu mengajak semuanya untuk bersulang karena berhasil menyelesaikan kasus barcode. 
Cho Rim sedang melihat laptopnya lalu memberitahu Moo Gak yang sedang berbaring di sofa kalau temannya yang tinggal di Jeju memberikan foto rumah lamanya, lalu ia melihat foto yang lain ada sebuah halte dan menunjuk tangga yang menurun.
Moo Gak melihat kota tempat tinggal Cho Rim itu sangat cantik, Cho Rim dengan bangga menceritakan kalau makanan sudah siap saat ia sampai dirumah karen selalu mengirimkan pesan pada ibunya saat perjalanan pulang dari sekolah, tepatnya ditangga itu.
“Apa kau ingin pergi melihat orang tuamu besok?” tanya Moo Gak
“Maksudmu, Ke Pulau Jeju?” kata Cho Rim
“Tidak, mereka berada dekat sini. Ayahmu mengebumikan mereka di dekat sini jadi kau bisa mengunjungi mereka sesekali sampai ingatanmu kembali. Aku juga memindahkan adikku di dekat sini jadi aku juga bisa sering mengunjunginya. Mereka berada di pemakaman yang sama!” cerita Moo Gak
“Benarkah? Aku selalu ingin menyapa adikmu. Kita harus pergi besok.” kata Cho Rim bersemangat, Moo Gak pun setuju.
Sebelum pergi ke tempat adik dan orang tua Cho Rim, Moo Gak pergi dulu ke toko perhiasan, wajahnya terlihat binggung. Salah seorang pegawai menanyakan apa yang dibutuhkan, Moo Gak mengatakan ia butuh cincin untuk melamar, pegawai itu memilihkan satu cincin untuk Moo Gak dan Moo Gak melihat cincin itu sangat cantik dan tanpa pikir panjang langsung mengambilnya. 
Foto ayah dan ibu Cho Rim terpasang denga dua tempat abu, Cho Rim menyapa ayah dan ibunya yang selama ini tak pernah ia datangi karena ingataanya yang hilang.
“Butuh waktu lama untuk sampai ke sini. Aku minta maaf. Kau pasti pernah begitu khawatir tentang diriku sejauh ini Aku baik-baik saja sekarang. Jadi jangan khawatir tentangku dan beristirahatlah dalam damai. Aku akan melanjutkan hidupku Dan aku akan datang mengunjungimu sesering mungkin. Oke?” ucap Cho Rim dengan tangisannya
“Aku akan mengurus Cho Rim selama sisa hidupku. Jangan khawatir.” gumam Moo Gak berjanji didepan orang tua Cho Rim. 
Mereka pindah ke tempat adik Moo Gak, terlihat foto Eun Sul yang tersenyum manis dengan memegang bunga. Moo Gak mengatakan kakaknya sudah datang dan tak datang sendirian.
“Aku minta maaf karena datang terlambat. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menebus hidupmu. Aku minta maaf dan berterima kasih.” ucap Cho Rim
“Aku akan membiarkan Cho Rim berbicara denganmu secara informal karena kau lebih muda dari dirinya. Tidak apa-apa, ‘kan?”  kata Moo Gak, setelah itu ia mengajak Cho Rim pergi dari tempat adiknya. 
Di mobil
Moo Gak menceritakan ia pernah berkerja dengan seseorang di akuarium Jeju dan mendengar temanny itu sudah pindah ke Seoul lalu ia mengajak Cho Rim untuk datang kesana sekarang. Cho Rim menatap Moo Gak dan langsung setuju.
“Tapi aku benar-benar tak bisa membayangkan itu.” komentar Cho Rim
“Tak bisa membayangkan apa?” tanya Moo Gak binggung
“Kau dalam pakaian penyelam.Aku pikir kau akan terlihat lebih baik dengan seragam polisimu!” ucap Cho Rim
“Itu lain cerita, Aku juga tampak hebat dalam pakaian penyelam!” kata Moo Gak bangga
Cho Rim merasa Moo Gak itu sering berbohong dihari ini. Moo Gak mengungkapkan diriny itu sekarang marah. Cho Rim merasa tak peduli, lalu tertawa karena ia senang bisa mengoda Moo Gak. 
Cho Rim terpana melihat akuarium yang sangat besar dan ikan pari yang besar berenang didepannya. Temenny menyambut Moo Gak yang datang dengan gembira dan berharap Moo Gak kembali karena akurium di Seoul sam dengan Jeju dan seorang Moo Gak yang terampil pasti akan selalu diterima. Moo Gak tersenyum dengan mengucapkan terimakasih.
“Pacarmu sangat cantik! Aku sangat senang kau melakukannya dengan baik. Jangan biarkan aku menahanmu.” goda temannya, Cho Rim tersipu malu karena dianggap cantik oleh teman Moo Gak, lalu teman Moo Gak pun pamit pergi.
“Akan menjadi menjadi luar biasa jika menikah di tempat seperti ini, ‘kan?” pikir Moo Gak
“Memang terdengar menakjubkan, seperti Gurita akan memberikan pemberkatan, dan pasangan dapat saling bertukar kerang!.” ucap Cho Rim
Moo Gak merasa akan lebih bagus kalau memang benar-benar menjadi nyata impiannya. Cho Rim tersenyum lalu menyanyikan lagu “Gurita akan memberikan pemberkatan…cumi-cumi di piano, dan kerang dipertukarkan!”Moo Gak mengerutkan dahinya lalu membalas dengan nyanyian “Ayo kita keluar dari sini.” dan mengajaknya pergi.
Sinopsis The Girl Who Sees Smells Episode 15 Part 1 | Maressa Bernadetta | 4.5
error: Content is protected !!